Sepak bola adalah permainan tentang kekuatan dan efisiensi. Di bawah langit turnamen, Prancis menunjukkan keduanya. Lini serang mereka beroperasi seperti mesin yang dirancang dengan baik, tajam dan tanpa ampun. Swedia merasakan dinginnya ketajaman itu ketika mereka tak berkutik dan menyerah tiga gol tanpa balas pada laga babak 16 besar.
// RELATED STORIES
Suka dengan artikel ini?
Dapatkan lebih banyak berita terbaru tentang Désiré Doué dan PSG dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe Sekarang →Kylian Mbappe mencetak dua gol yang dingin. Michael Olise mengirim dua umpan matang yang merobek pertahanan lawan. Menurut catatan pertandingan, kombinasi para penyerang ini membuat lini belakang Swedia menderita sepanjang malam. Keberadaan pemenang Ballon d'Or terkini, ditambah kecepatan Barcola dan Dembele, mengubah lapangan hijau menjadi tempat berburu yang mudah bagi Les Bleus.
Dunia menyaksikan dengan penuh kekaguman. Berdasarkan ulasan media Spanyol Marca, superioritas yang ditunjukkan oleh empat penyerang asuhan Didier Deschamps terasa begitu mutlak hingga hampir terasa menyakitkan bagi lawan yang harus menghadapinya. Mereka menyebut situasi yang dialami Swedia malam itu sebagai sebuah siksaan taktik yang panjang.
Kekuatan ini diakui pula oleh legenda sepak bola, Zlatan Ibrahimovic. Ia melihat laga dengan mata seorang pria yang tahu benar arti sebuah pertempuran. "Swedia memiliki keberanian di awal laga, tetapi di depan mereka adalah Prancis. Prancis adalah bosnya," kata Zlatan Ibrahimovic dengan nada bicara yang tegas dan penuh rasa hormat.
Zlatan Ibrahimovic secara khusus memuji visi bermain Michael Olise yang dianggapnya mampu memberikan warna berbeda di luar kecepatan murni yang dimiliki oleh Kylian Mbappe maupun Dembele. Menurutnya, setiap pemain di lini depan Prancis memiliki kemampuan individu yang cukup untuk memenangkan sebuah pertandingan sendirian.